Senin, 04 Juli 2011

NURANI (tinjauan dari Sang Inspektur)

2 hours to midnight, Juli 04th 2011
Terbaring membisu dalam kamar sepi.
 Sang waktu telah berotasi sejauh 2 jam menjelang Pergantian hari. Ragaku begitu letih termakan aktifitas hari ini. Sembari menunggu rasa kantuk yang kuharapkan secepatnya merenggut Insomniaku ini, aku pun menyetel beberapa lagu kesayanganku yang ku save di Winamp saved Playlist’ku. Seperti biasa, lagu-lagu beraliran Alter-Bridge, Creed, 3 doors down,dan sejenisnya. Namun ada 1 lagu yang sedikit membawaku kembali teringat akan pesan/ amanat dari Inspektur upacara bendera, senin, 04 Juli pagi tadi.

Lagu dari band dengan drummer Nyentrik, si ENO NETRAL, bertitel:”NURANI.” Secara keseluruhan, lagu ini mempertanyakan “eksistensi Nurani” dari “seseorang”; entah siapakah itu.
               
Mencoba beranjak sejenak meninggalkan konsentrasiku akan distorsi gitar sang gitaris serta  cita rasa drum
yang nge’Travis Blink’ banget;  pikiranku melayang kembali ke isi dari amanat sang Inspektur pagi tadi. Memang, aku pribadi, tak mencerna secara eksplisit total keseluruhan amanat tersebut. Namun yang ku tangkap, adanya sebuah mandat agar kami;kita ,para taruna hendaknya bertindak dengan NURANI. Segalanya akan berjalan harmonis dan sesuai harapan bersama, pabila kita Bertindak berdasarkan suara hati nurani kita.
Hati tersentak, jiwa pun melonjak, saat mendengar mandat sang Inspektur. Lantas Ku berpikir, mungkinkah ini sebuah Jawaban atas ketidak_jelasan Peraturan yang diberlakukan di kampusku?.semisal,hal simple yang sering kupertanyakan,yakni aturan tentang disiplin Waktu; disiplin potongan Rambut taruna, dsb. Semua menjadi kabur, Blur, UnClear, tak jelas dan tak tranparan, Aturan main yang diberlakukan.
<wondering; starring>
Few minutes later…..

     Di sini, di detik ini, aku menyadari dan secara reflektif, aku menemukan jawaban, ‘Ke Manakah Kita BERPEDOMAN?”. .Ternyata, memanglah benar demikian, bahwasannya dalam bertindak, dalam menjalani kehidupan ini, “nurani”-lah yang pantas menjadi Pedoman ke arah mana kita hendaknya melangkah. Tidak perlu adanya regulasi Peraturan dan tata tertib yang sampai sedetil-detilnya hingga tak ada satu iota-pun yang tak jelas. Sebab semua kita adalah Manusia, dan karena ke’manusia’an kita itulah, mengapa Allah mengaruniakan kita HATI NURANI.
  
    Seperti halnya dalam memilih, entah misalnya dalam pemilihan Kepala daerah, pastinya semua elemen termasuk kita para pemilih melakukannya dengan pertimbangan suara HATI NURANI; Nurani adalah tempat terdalam dari ke’manusia’an kita, yang begitu Bersih dan tak bernoda; pabila ada insan ternoda yang hidup dalam lumpur dosa dan lembah Nista, bukan berarti Nuraninya pun Hitam dan bernoda. Tetap saja, Nurani seorang manusia adalah putih adanya seputih kapas di padang sana; hanya saja, untuk insan insan tersebut, Nuraninya telah “PADAM”, ibarat kapas putih yang layu di tangkai pohonnya sebelum dipetik.
Nurani; Oh nurani, andaikata Kau jadi pedoman bagi ku, bagi dia, bagi kami….tentunya Harmoni dunia ini bukanlah sebuah Utopia….

<closing song: SUPERGLAD- Suara Hati>
“kamar sepi,21;59 WIB”

Related Post:

0 komentar:

Posting Komentar

 
;