Minggu, 28 Oktober 2012

GEOPHYSIC 45 -KISAH ( Sebuah Memoar Reflektif di Penghujung Masa Taruna)







“Hidup adalah perjalanan menapaki dimensi waktu.
Ada saat kita berjalan bersama; ada saat kita di persimpangan.
Ada saat kita bersama merajut kisah; ada saat kita berpisah untuk membiarkan rasa rindu beradu dalam hasrat ‘tuk bersua.
Acta est fabula. Semua yang terjadi adalah sebuah KISAH.”






Kisah. Semua kita yang terlahir di dunia ini entah disadari atau tidak, semuanya sedang menorehkan kisahnya masing-masing yang sebenarnya skenarionya sudah dituliskan oleh Sang Creator Ilahi; Sang Pemberi Hidup.



Dalam skenario Ilahi, pada lembaran buku kehidupan masing-masing kita, Sang Pencipta telah menorehkan bahwa ketika kelak kita menginjak usia 18-22 tahun, sebuah transisi dari remaja menuju fase selanjutnya (tepatnya ketika perjalanan waktu telah sampai di medio November tahun 2009) akan ada 26 anak manusia dipertemukan dalam suatu wadah berlabel pendidikan dan pelatihan. Semua rencana Sang Pencipta tersebut termanifestasikan dalam sebuah realita yang jauh di luar pemahaman dan penalaran logika; yang menjadi nyata melalui proses seleksi penerimaan Taruna Akademi Meteorologi dan Geofisika jurusan Geofisika tahun 2009.

Taruna Geofisika angkatan 45. Sebuah wadah perwujudnyataan dari rencana Sang Pencipta untuk mempertemukan 26 insan ciptaan-Nya; untuk saling mengenal, menjalani hidup bersama dengan motivasi yang sama; yang entah disadari atau tidak, Dia amanahkan dan mandatkan 1001 misteri dan rahasia mengenai kompleksitas alam ciptaan-Nya yang ditempati hampir 24juta jiwa yang ditempatkan-Nya pada zona rentan bencana. Zona yang oleh manusia ciptaan-Nya dinamakan Indonesia.

Pernakah terpikirkan oleh kita? Atau, setidaknya adakah kita renungkan, mengapa dalam fase hidup kita, kita dipertemukan di Diklat AMG ini? Mengapa kita terpilih untuk menjadi Taruna jurusan Geofisika?. Saya berani bertaruh, sebelum test masuk AMG, tidak ada satupun dari kita yang tahu ruang lingkup dan wahana bidang ilmu yang dikaji pada jurusan Geofisika yang 3 tahun telah kita tekuni ini. Adakah disiplin ilmu lainnya yang lebih kita kuasai dalam arti kita lebih berbakat untuk mempelajarinya dibandingkan ilmu Geofisika itu sendiri? Jawabannya relative pada individu masing-masing.

Apapun jawabannya, satu yang ingin saya sampaikan, dalam hidup ini, tidak ada yang namanya KEBETULAN. Tidak ada istilah incidental bagi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini. Segala yang terjadi memiliki makna tersendiri. Semua kejadian dalam fase hidup kita berinterelasi dalam satu maha rencana.

----***----

Menengok kembali 2 tahun silam; membuka kembali lembaran memoar kehidupan di medio November 2010. Lantas pernah prahara datang menghancuri mimpi 20-an hati. Dengan label birokrasi, sejumlah pihak decision maker dari system yang kompleks menghadirkan citarasa PENANTIAN dalam alur kisah yang kita jalani; episode “ASA YANG TERTUNDA” dari sinema bertitel Field Working Practice atau Praktik Kerja Lapangan. Sebuah penantian dengan akhir yang masih blur tanpa ada regulasi yang jelas pada saat itu; sehingga cukup memilukan tapi tak sampai memalukan karena mentalitas kita adalah pemenang bukan pecundang. Dua tahun hidup dalam dinamika proses pendidikan, membaur bersama angkatan senior justru membuat kita semakin matang secara psikis meski paling terkikis secara finansial. But life’s must go on! Dan demikian, Geofisika 45 tetap ada hingga detik ini.

----***---

Kamis, 25 Oktober 2012. Adalah sebuah baut kecil dari rangkaian rel panjang deret waktu yang telah dan masih akan kita kita tempuh dalam perjalanan hidup ini. Sebuah perhentian yang tidak begitu jauhnya dari penanda akhirnya putaran satu tahun, Desember.

Desember yang akan menjadi momentum terakhir kita berseragamkan taruna. Akan menjadi portal dimensi waktu dari fase taruna kita menuju fase pegawai. Selepas Desember adalah sebuah kesempatan di mana kita diberikan kans untuk berguru pada pengalaman; bukan sekedar pada slide-slide powerpoint yang dipresentasikan sebatas dinding kelas; bukan pada deretan formula yang berjejer hitam-putih di atas whiteboard; bukan hanya sebatas meminjam buku di library dan mencari intisari yang tersurat eksplisit  dan tersirat implisit di balik kertas-kertas jurnal para peneliti. Karena demikianlah adanya bahwasannya “usus magister est optimus”; “pengalaman adalah guru yang terbaik.” Time to enrich knowledge by doing; not only learning. Saat yang tepat untuk memperkaya wawasan ini dengan melakukan; bukan hanya sekedar membaca dan mempersilahkan lobus otak untuk berimajinasi.
Akhir kata, saya lampirkan sebuah pepatah Italy :


“ Siammo tutti angeli con una sola ala, possiamo volare solo se ci abbraciamo l’uno con l’atro”
“ We are each of us angels with only one wing; and we can only fly by embracing one another”



SETIAP KITA ADALAH MALAIKAT BERSAYAP SATU; DAN KITA HANYA AKAN BISA TERBANG HANYA DENGAN SALING MERANGKUL.


 














RICHTER-45 . la famiglia siempre.

Alexander Parera




Related Post:

0 komentar:

Posting Komentar

 
;